Belum dirilis, lagu kolaborasi para penyanyi tersohor dunia mengenai kemerdekaan Palestina sudah mendapat kecaman.
Lagu bertajuk "Freedom For Palestine" ini mulanya akan dirilis bulan depan. Beberapa penggalan lirik lagu "Feed The World" dan "Free Nelson Mandela" masuk dalam lagu untuk Palestina tersebut. Artis yang menggarapnya pun berkelas.
Seperti Dave Randall dari Faithless, Maxi Jazz serta Durban Gospel Choir. Dalam video yang mereka buat, terdapat gambar-gambar dari Tepi Barat dan Gaza. Juga dinding pemisah yang selama ini mengukung Palestina.
Liriknya merujuk pada bencana, pengungsian, kejahatan kemanusiaan, kamp-kamp penjara, penjajahan, hak asasi manusia dan keadilan. "Saatnya berdiri dan bernyanyi untuk Palestina," demikian penggalan liriknya.
Grup band asal Inggris, Coldplay, mencantumkan link video tersebut ke laman Facebook mereka. Namun menghapusnya setelah terdapat tujuh ribu komentar, baik pro maupun kontra. Sementara pembawa acara ternama AS, Glenn Beck, menyebut lagu itu sebagai propaganda.
Sumber: inilah.com
Showing posts with label Untuk Palestina. Show all posts
Showing posts with label Untuk Palestina. Show all posts
Untuk Pertama Kali, Bendera Palestina Berkibar di Amerika
Bendera Palestina berkibar untuk pertama kalinya di Amerika, tepatnya di markas Organisasi Pembebasan Palestina di Washington, Selasa, 18 Januari 2011. Pengibaran ini mengundang kecaman dari para anggota DPR AS yang mengatakan bahwa Palestina berusaha untuk mencari perhatian internasional.
Dengan diawali dengan upacara singkat, utusan Palestina untuk PLO di AS, Maen Areikat, mengibarkan secara resmi bendera berwarna hijau, merah, putih dan hitam tersebut. Seperti dikabarkan oleh Associated Press, Areikat berharap aksi simbolis ini dapat menghasilkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina atau perjanjian damai dengan Israel.
“Kami bangga melihat bendera itu. Sudah saatnya bendera yang menggambarkan perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaannya dikibarkan di Amerika Serikat. Kami harap ini dapat membantu meningkatkan pengakuan internasional terhadap negara Palestina,” ujar Areikat.
Areikat menyadari bahwa secara praktis, pengibaran bendera ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap kebijakan luar negeri AS. Namun, dia mengatakan, pengibaran bendera adalah langkah yang penting untuk mencari pengakuan AS. Dia berharap pemerintahan Barack Obama dapat segera mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
Pemerinah Palestina saat ini tengah gencar mencari dukungan internasional. Terhitung sudah enam negara di Amerika Selatan yang mengakui kedaulatan Palestina, yaitu Guyana, Brazil, Argentina, Bolivia, Uruguay dan Ekuador. Negara-negara ini mendukung kemerdekaan dan mengakui wilayah Palestina yang disepakati sebelum Israel mencaplok wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur dan Jalur Gaza pada Perang Timur Tengah 1967.
Aksi pengibaran bendera ini ditentang oleh anggota ketua DPR urusan hubungan luar negeri AS, Ileana Ros-Lehtinen. Dilansir dari laman Jerusalem Post, Lehtinen mengatakan bahwa pengibaran bendera ini adalah salah satu usaha pemimpin Palestina untuk memanipulasi penerimaan dunia internasional.
“Ini adalah bagian dari usaha Palestina untuk mendapat pengakuan internasional. Beberapa bagian strategi ini bertujuan untuk menunjukkan konsensus tanpa adanya komitmen internasional,” ujar Lehtinen.
Lehtinen juga mengkritik pemerintahan Obama yang disebutnya telah mendukung Palestina secara ekonomi dan politik, termasuk mendukung kantor PLO di Washington.
Direktur pengacara untuk Gugus Tugas Palestina di Amerika, Ghaith al-Omari, membela pengibaran bendera tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah bukti perkembangan di Tepi Barat. “Misi PLO tidak akan dapat berkembang jika tidak ada kemajuan yang dibuat oleh pemerintah Palestina dalam meningkatkan keamanan dan pemerintahannya,” ujarnya.
Sumber: vivanews.com
Dengan diawali dengan upacara singkat, utusan Palestina untuk PLO di AS, Maen Areikat, mengibarkan secara resmi bendera berwarna hijau, merah, putih dan hitam tersebut. Seperti dikabarkan oleh Associated Press, Areikat berharap aksi simbolis ini dapat menghasilkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina atau perjanjian damai dengan Israel.
“Kami bangga melihat bendera itu. Sudah saatnya bendera yang menggambarkan perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaannya dikibarkan di Amerika Serikat. Kami harap ini dapat membantu meningkatkan pengakuan internasional terhadap negara Palestina,” ujar Areikat.
Areikat menyadari bahwa secara praktis, pengibaran bendera ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap kebijakan luar negeri AS. Namun, dia mengatakan, pengibaran bendera adalah langkah yang penting untuk mencari pengakuan AS. Dia berharap pemerintahan Barack Obama dapat segera mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
Pemerinah Palestina saat ini tengah gencar mencari dukungan internasional. Terhitung sudah enam negara di Amerika Selatan yang mengakui kedaulatan Palestina, yaitu Guyana, Brazil, Argentina, Bolivia, Uruguay dan Ekuador. Negara-negara ini mendukung kemerdekaan dan mengakui wilayah Palestina yang disepakati sebelum Israel mencaplok wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur dan Jalur Gaza pada Perang Timur Tengah 1967.
Aksi pengibaran bendera ini ditentang oleh anggota ketua DPR urusan hubungan luar negeri AS, Ileana Ros-Lehtinen. Dilansir dari laman Jerusalem Post, Lehtinen mengatakan bahwa pengibaran bendera ini adalah salah satu usaha pemimpin Palestina untuk memanipulasi penerimaan dunia internasional.
“Ini adalah bagian dari usaha Palestina untuk mendapat pengakuan internasional. Beberapa bagian strategi ini bertujuan untuk menunjukkan konsensus tanpa adanya komitmen internasional,” ujar Lehtinen.
Lehtinen juga mengkritik pemerintahan Obama yang disebutnya telah mendukung Palestina secara ekonomi dan politik, termasuk mendukung kantor PLO di Washington.
Direktur pengacara untuk Gugus Tugas Palestina di Amerika, Ghaith al-Omari, membela pengibaran bendera tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah bukti perkembangan di Tepi Barat. “Misi PLO tidak akan dapat berkembang jika tidak ada kemajuan yang dibuat oleh pemerintah Palestina dalam meningkatkan keamanan dan pemerintahannya,” ujarnya.
Sumber: vivanews.com
Yasser Arafat Dibunuh dengan Racun

Mantan Presiden Palestina, Yasser Arafat, diduga tewas karena dibunuh Israel dengan menggunakan racun Thallium. Racun ini menyerang sistem aliran darah dalam tubuh dan menghancurkan organ dalam satu persatu.
"Bahan mematikan ini diambil dari rumput laut dan dibuat menjadi cairan yang tidak berwarna, berasa dan berbau," ujar Bassam Abu Sharif, mantan penasehat senior Yasser Arafat seperti dilansir dari laman berita Al Arabiya, Selasa 11 Januari 2011.
Sharif mengatakan, bahwa laporan ini berdasarkan hasil temuan para ahli racun terkemuka dari Inggris. Dia tidak memberikan nama para ahli ini demi alasan keamanan.
Dia menambahkan, berdasarkan sifatnya, Thallium merupakan bahan yang sangat sulit dideteksi. Salah satu karakteristik racun ini adalah ketika dicampurkan dengan makanan dan minuman, maka tidak akan merubah rasa, warna maupun baunya. Racun ini juga dapat langsung disuntikkan ke pembuluh darah.
"Namun laporan menunjukkan bahwa cara paling efektif agar racun ini menyebar keseluruh tubuh adalah melalui lidah, jadi racun kemungkinan ditambahkan ke air, teh dan kopi, atau buah-buahan dan sayuran, bisa juga pada obat", ujar Sharif.
Yasser Arafat meninggal setelah menderita penyakit misterius pada 11 November 2004. Awalnya, diduga dia menderita flu, kemudian berangsur-angsur kondisinya semakin memburuk.
Dia kemudian dilarikan ke rumah sakit militer Percy di Prancis di bawah pengawasan tim dokter dari Tunisia, Yordania dan Mesir. Dia akhirnya meninggal, dan dokter hanya bisa menjelaskan bahwa dia menderita kelainan darah yang misterius.
Kematian Arafat tersebut persis seperti yang digambarkan Sharif mengenai cara kerja thallium pada tubuh, yaitu menyerang sistem produksi darah. Racun dapat membuat aliran darah terhenti dan tubuh tidak mampu lagi memproduksi darah.
Jika ini terjadi, maka yang pertama terkena kerusakannya adalah hati, kemudian ginjal, paru-paru, lalu terakhir menghancurkan otak dan menyebabkan kematian.
Sharif mengatakan bahwa teknik meracuni orang seperti ini adalah salah satu senjata unggulan Israel dalam membunuh targetnya. Dia mengatakan, bahwa target berikutnya mungkin adalah Presiden Palestina saat ini, Mahmoud Abbas.
"Saya telah memberitahu Abbas untuk waspada karena mungkin terdapat rencana serupa dari Israel untuk menyingkirkannya dan Perdana Menteri Salam Fayyad. Israel ingin agar posisi kepemimpinan di Palestina kosong," ujar Sharif.
Sumber: vivanews.com
Subscribe to:
Posts (Atom)














































































































































